Miris! Mitsubishi Xpander Saksikan Tuannya Jatuh Miskin

  • Whatsapp
Jatuh miskin
Mestinya, Xpander ini diparkir lebih jauh, supaya tidak menghalangi kamera :)
jadwal-sholat
Disaksikan Mitsubishi Xpander miliknya yang diparkir di halaman rumah tetangga, warga miskin terdampak Covid-19 terima BLT Dana Desa

♦♦♦

SIANG Itu, matahari serasa lebih dari satu, mungkin mereka selusin. Panas teriknya membakar kulit kepala segenap relawan gugus tugas percepatan penanganan pandemi Covid-19 sebuah desa dalam wilayah Provinsi Bengkulu.

Read More

pandang-istana

Mereka berkeliling desa, mendatangi beberapa rumah warga miskin terdampak Covid-19 guna menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Kabarnya, di desa ini terdapat 69 kepala keluarga (KK) miskin terdampak Covid-19 dan mengaku belum pernah merasakan bantuan apapun dari pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Bantuan Sosial Tunai (BST).

Usai sesi fota-foto di depan rumah berdinding papan dan berlantai plester kasar milik seorang penerima BLT, tim relawan bergegas menuju dua rumah terakhir.

Beberapa langkah sebelum memasuki halaman rumah bergarasi lebar tersebut, mereka —nyaris serentak—  mengangkat telapak tangan sejajar alis —hampir mirip sikap hormat— untuk menghalangi pantulan matahari dari kaca mobil Mitsubishi Xpander berwarna putih yang terparkir manis di halaman rumah sebelah.

Dua KK di kedua rumah ini memang termaktub dalam daftar penerima BLT, dan tentu saja sudah bersiap-siap menunggu kedatangan tim relawan mengantar haknya.

Cekrek, jebret..! Dua foto beruntun diabadikan penulis saat tim relawan menyerahkan enam lembar uang pecahan Rp 100 ribu kepada pemilik Xpander.

Sayangnya, protokol kesehatan memaksanya tetap memakai masker, sehingga tak bisa memproklamirkan ekspresi tertentu setelah divonis auto-miskin oleh oknum pengguna regulasi yang tengah auto-khilaf.

Momen ini disaksikan mobil kesayangan —berusia sekitar sembilan bulan— yang terparkir 700 sentimeter dari spot foto, tepatnya di halaman rumah tetangga.

Sang Xpander baru kebagian masuk kamera saat tim relawan menyerahkan BLT kepada pemilik rumah tempat parkir mobil.

Cek Harga Xpander Anda: KLIK DI SINI 

Dua rumah berfenomena tukar image ini turut mewakili sepenggal kegilaan di masa pandemi.

Menyitir filsuf tersohor asal Kota Bikini Bottom, SpongeBob SquarePants, fenomena ini bisa disebut “ironi di atas ironi”.

Saatnya Memulai Kembali Perjalanan Anda Bersama: Carmudi

Seorang pendamping desa yang dihadirkan di lokasi saat dimintai penjelasan justru balik bertanya, “miris kan?”

Menurut dia, penetapan pemilik Xpander sebagai penerima BLT Dana Desa sudah melalui mekanisme dalam Musyawarah Desa Khusus (Musdessus) yang digelar hingga lima kali di desa ini.

DP Terjangkau, Cicilan Ringan: Xpander Siap Dibawa Pulang

Musdessus pertama hanya disepakati lima KK penerima, digugat warga. hingga harus menggelar Musdessus ulang.

Setelah Musdessus keempat yang menetapkan penerima BLT 33 KK, kemunculan KK miskin makin tak terkendali, hingga akhirnya ditetapkan 69 KK melalui Musdessus kelima.

Simak Juga: Dirilis 2023, Xpander Hybrid Digadang-gadang Sebagai HEV Paling Ganteng di Kelasnya 

Warga tajir pemilik Xpander lansiran teranyar ini diduga mendadak jatuh miskin hingga akhirnya diberi BLT, karena terdampak Musdessus berulang-ulang di desanya.

Sejauh ini, pemerintah desa setempat juga belum bersedia menjelaskan siapa sebenarnya pemilik mobil tersebut. Bisa saja, hanya titipan pihak lain.

 

Siapa Terdampak?

Sejatinya, kemiskinan bukanlah relatif, apalagi normatif. Kemiskinan dan status kepemilikan harta punya hubungan matematis cukup erat, angka-angkanya pasti dan tentu saja mudah dihitung.

Namun, saking mudahnya berhitung, kemiskinan tiap desa pun ternyata dipaksakan harus merata.

Lazimnya, pemaksaan demikian terjadi saat suatu desa menetapkan jumlah KK miskin penerima BLT dengan angka maksimal, hingga porsi 25 pesen dana desa terpakai seluruhnya, maka oknum masyarakat desa tetangga —memiliki dana desa, jumlah penduduk dan pekerjaan dominan— relatif sama, mendesak dinyatakan miskin juga, demi Rp 600 ribu/bulan selama satu triwulan.

Tidak terpakainya suara para pendamping desa sebagai penyambung lidah Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), ditambah lambannya pemerintah daerah menerbitkan regulasi yang lebih spesifik —dibanding regulasi kementerian berkompeten yang besifat nasional— diduga turut memicu mencuatnya “fakta-fakta gokil” realisasi BLT di lapangan.

Kalau hanya dipandang dari perspektif terdampak, Presiden Joko Widodo saja terdampak Covid-19. Dia kesulitan mudik ke Solo saat Idul Fitri lalu, dan sampai sekarang masih menjalankan protokol kesehatan.

 

Pers Mulai Jengah

Patut diakui, pemerintah desa memang takkan bisa banyak berkutik ketika dihadapkan pada keputusan musyawarah desa yang notabene memiliki kekuatan hukum tertinggi di tingkat itu.

Siapa saja boleh berpendapat, bahwa suara rakyat adalah suara tuhan. Tapi, pers juga bakal jengah saat akan mengupas siapa aktor intelektual pemicu “suara tuhan” tersebut.

Di Kabupaten Bengkulu Selatan, pekerja pers mulai malas berkarya, dirundung bimbang, merasa turut berdosa kalau terus-terusan menulis berita positif bermodal temuan kurang wajar, bahkan kadang dibenturkan dengan pemerintah desa.

Sebut saja Ade Bewok, Apip Lentuy, dan Ikhsan Jabalan. Tiga pewarta kawakan asal Bumi sekundang Setungguan ini lebih memilih hengkang dari media mainstream masing-masing, melanjutkan karir sebagai kreator sekaligus aktor youtube.

Begitu pula Ronin98.com, media “ekstrimis” besutan puluhan mantan Aktivis’98 ini memilih opsi tarik selimut, melanjutkan tidur panjang sembari menopang orbitasi Kapthen Purek, Ona Hetharua, Putry Pasanea dan Sanza Soleman di Indonesia Timur, juga melalui kanal youtube.

Semoga segenap pemerintah desa tetap bisa bersinergi dengan elemen tersisa demi kinerja lebih produktif di hari depan, meski pegiat pers mitra kerja mereka satu persatu menenggelamkan diri.[redaksi]

banner 728x90
banner 300x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *